/

Kamis, 02 Januari 2014

4 hari pada bulan Desember

Kamis dengan angka bercetak merah di kalenderpun tiba; libur bersama setelah natal. Ini adalah pagi kesekian kalinya  yang aku habiskan dengan menambah jatah tidur sepuasnya. Aku suka hari hari libur, hari dimana aku bisa bangun tidur pada jam berapa saja semauku, melakukan apa saja yang aku inginkan, terlebih karena sudah tidak ada list tugas yang biasanya menghantui hari-hari ceriaku.

Ku peluk erat guling yang telah begitu akrab menemaniku selama dua tahun nge-kost. Ku gapai selimut tebal berwarna abu-abu seraya menutupi tubuhku dari dinginnya kamis pagi yang semakin menjadi-jadi. Ku biarkan gorden yang menutupi jendelaku tetap menutup. Aku sedang enggan bertemu matahari. Aku ingin kamarku tetap gelap agar bintang-bintang di langit kamarku tetap memancarkan cahayanya dengan begitu indah.

TOKK TOKK TOKK..

Ku dengar seseorang mengetuk pintu kamarku tanpa sekalipun mengeluarkan suaranya. Memanggil namaku atau bahkan mengucapkan salampun tidak aku dapati dari sosok itu. “SIAPAAAA?” teriakku, malas. Dan masih saja tidak ku temukan balasan suara dari balik pintu kamarku. Aku penasaran, namun tidak merasakan was-was yang biasa aku rasakan bahkan pada hal yang begitu sepeleh.

Dengan langkah kaki yang terseret, ku hampiri pintu kamar lalu membukanya dengan wajah yang begitu acak-acak-an. “Siaaaa.…paaah?” kataku, meraih gagangan pintu dan membukanya.  Ku dapati sesosok yang tidak asing lagi disana lengkap dengan senyum merekah, semerekah kuntum bunga yang kudapati berada di tangannya.

“Selamat pagi, keboo” Aku terngangah. “Kebo jaman sekarang kalo bengong tampangnya kayak gitu yah? Bisa pesan face yang lebih bagus dari itu tidak?” sambungnya, kali ini sambil mencubit pipiku dengan tangan kirinya. “AAAAAK SAKITTT TAUKKK!” histerisku, dia terkekeh.

Ini adalah pertemuan keduaku dengannya. Pertemuan kami yang pertama adalah setahun yang lalu di Jogja. Beberapa bulan yang lalu kami telah merencanakan pertemuan ini, tapi aku begitu tidak menyangka hari itu akan datang saat ini. Yah! sekarang dia ada di hadapanku. 

Ku gapai sekuntum bunga yang tengah begitu merah merekah tanpa tunggu dipersilhakan terlebih dahulu. Dia kembali terkekeh, gingsul yang lebih sering ku dapati dari balik layar 12 inciku pun akhirnya bisa ku lihat tanpa perantara lagi. Ingin aku memeluk pemiliknya, tapi… ah sudahlah.

“Jalan yuk!” katanya, sambil menikmati segelas Milo yang ku buatkan khusus untuknya.
“Yaudah, aku mandi dulu” jawabku.
“Sebenarnya aku lebih suka kamu yang belum mandi”
“Mau aku tonjok pake tangan kiri atau  tangan kanan?”
“Iya suka ajah.. soalnya tampang enggak  mandi kayak gini yang lebih sering aku dapati kalau kita skype-an”
“Kanan aja deh yah” kataku sambil mengepalkan tangan kanan milikku lalu melayangkan sebuah tonjokkan ke perutnya. Dia meringis dan aku berlari mengambil handuk lalu mandi. Tentunya sambil tertawa puas.

****

“Kenapa datanganya tiba-tiba?” tanyaku. Tak ada jawaban yang ku dapati, yang ku temui  hanyalah tangan miliknya yang menggenggam tanganku tanpa memperdulikan pertanyaan yang aku utarakan padanya. Dia terus berjalan sambil tersenyum, entah makna senyum itu adalah apa.

“HEEII…”  teriakku. Bukan karena tangannya menggenggam tanganku dengan hangatnya dan membuatku begitu salah tingkah tiba-tiba. Bukan. Aku hanya butuh jawaban atas pertanyaan yang beberapa saat lalu aku utarakan.

Dia menghentikan langkahnya, melepaskan tanganku dari genggamannya lalu menatap kedua mataku begitu dalam. Ah, begitu banyak kupu-kupu yang menari di dadaku saat itu.

“Apakah tiap kali ingin membahagiakanmu aku harus meminta isin terlebih dahulu? Harus?” dia kembali bertanya atas pertanyaan yang aku utarakan tadi. Pertanyaan yang sebenarnya adalah jawaban untuk pertanyaanku sendiri. Aku terdiam. Dia tersenyum lalu kembali berjalan sambil menggenggam tanganku, lebih erat. Aku ikut tersenyum.

****

Empat hari tidak akan pernah berhasil menghapus sayatan rindu yang telah begitu ber-anak cucu selama setahun. Aku sangat menyukai empat hari yang begitu indah antara dia dan aku, tetapi aku belum mampu mendewasakan rindu yang semakin ku temui sang empunya-nya maka rasa yang tercipta hanyalah terus dan terus ingin bertemu. Ah, aku benci berpisah lalu rindu semakin mendidih setelahnya.

Aku menunduk. Lalu ku dapati dia memberikanku sekotak Chocolatos kegemaranku, tentunya kegemaran dia juga. Aku dan dia selalu punya cerita tentang Chocolatos. Cerita tentang kesedihan yang berubah menjadi tawa adalah salahsatunya. Yah, entah mengapa kami bisa begitu terhipnotis dengan kelezatan tiap gigitan Chocolatos. Ini bukan iklan, kami tidak pandai mengiklankan sesuatu. Kamipun telah mencoba berbagai macam jenis coklat, tapi hanya Chocolatos yang mampu mengerti kami.

“Aku sedang tidak bersedih. Tak usah kau beri aku Chocolatos. Simpan saja, untukmu…” kataku, masih menunduk. Tak ada balasan kalimat, atau bahkan kata darinya. Tak ada respon, tangannya masih terjulur memberikanku sebuah kotak berwarna coklat keemasan tersebut.

“Aku sedang tidak bersedih!” sengaja kuulangi.

“Aku punya dua kotak. Satu kotak untuk aku, sudah ku masukkan ke dalam ranselku. Ambillah!” katanya, masih dengan menjulurkan sekotak Chocolatos padaku.

“Aku sedang tidak bersedih!” batuku dengan nada yang lebih rendah dari sebelumnya. Aku masih tertunduk.

“Sebatu apapun kamu sekarang, sekuat apapun kamu ingin terlihat tegar, aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja. Ambillah! Tunjukkanlah kesedihanmu! Agar aku punya satu alasan tambahan untuk kembali mengunjungimu disini. Menjenguk bulir-bulir rindu yang tercipta bahkan saat aku masih bersamamu..”

Ku tegakkan kepalaku. Aku tahu kau telah mendapati linangan air mata di kedua pipiku, kau menghapusnya lalu menggenggam tanganku. Tangisku semakin pecah. Aku gagal. Aku gagal mendewasakan rindu, batinku.

Kau kembali menjulurkan sekotak Chocolatos padaku. Kali ini aku menggapainya. Kau bahkan berpesan untuk segera aku habiskan isinya padahal niatku adalah menyimpannya untuk bisa kita habiskan bersama dikunjunganmu berikutnya. “Kembalilah sebelum tanggal kadaluarsa  di kotak ini tiba!” kataku. Kau mengangguk dan tersenyum.

Kini.. kau sang empunya tangan kiri yang begitu hangat setia menggenggam tangan kananku pun telah melepaskan genggaman. Degupku semakin kencang. Senyum milikmu berlalu semakin jauh dari hadapanku. Tak ada pelukan antara aku dan kamu, biarkanlah doa dan harapan kita yang melakukannya.

Semakin kau tak terlihat, semakin ku mundurkan langkah kakiku hingga keluar dari bandara. Ku angkat kepalaku melihat langit kota Makassar yang begitu cerah, ku kirimkan sebuah senyuman untuk sebuah pesawat yang terbang dengan gagahnya menghiasi birunya langit saat itu. Ah, aku selalu kalah melawan rindu penuh gebu setelah perjumpaan.

Untukmu wahai pemilik nama yang setia terlafadz pada degupku yang begitu gaduh meringkihkan rindu, aku sedang enggan berkata jujur bahwa Aku Sayang Kamu. Iya, aku sedang enggan jujur.



Terimakasih telah datang menjenguk rindu dan kembali menciptakan rindu.
#ESKADE

1 komentar: