/

Jumat, 04 Oktober 2013

kita menyebutnya 'keinginan'


“Apa keinginan kalian saat ini?” ucap Fika secara tiba-tiba, memecah hening yang tercipta sejak beberapa saat yang lalu, saat dia dan ketiga temannya sedang mengerjakan tugas statistik mereka.

“Maksudnya?” tanya Nisa sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Lara dan Faiz yang sedang fokus mengerjakan tugaspun menghentikan fokusnya. Mereka diam sembari berfikir.

“Yah, tentu saat ini kalian memiliki keinginan, kan? Nah, Keinginan apapun itu,  coba utarakan…” jawab Fika, kali ini mengikuti gaya Nisa; menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Sedikit bingung dengan kalimat yang ia sendiri baru saja utarakan.

“Makan!” lantang Faiz sambil mengepalkan tangannya dengan semangat yang dibuat-buat. Yah, malam ini mereka belum menyentuh makanan sedikitpun karena sibuk dengan tugas statistik mereka. Makanan yang mereka pesan sedari tadi belum menunjukkan tanda-tanda kedatangannya. Tidak heran jika keinginan Faiz yang paling menggebu-gebu saat ini adalah MAKAN.

“Tugas Statistik ini segera selesai….”
Kali ini Lara-lah yang mengutarakan keinginannya dengan sisa-sisa semangat yang dimilikinya. Tugas statistik ini memang sangat menguras tenaga dan fikiran. Lumrah jika Faiz, Nisa dan Fika mengangguk bersama meng-iya-kan keinginan Lara.

“Nis, sekarang giliranmu…” todong Faiz ke Nisa yang daritadi sibuk meng-ner-dan-tul-kan keinginan Faiz dan Lara. “daritadi kenceng banget NER dan TULnya, sekarang apa keinginanmu?” lanjut Faiz membuat Nisa semakin kencang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“IYAAA IYAAAA…. Nyante kale, Iz!” manyun Nisa. Dan Faiz membalasnya dengan tawa yang paling kencang miliknya.

“Bukan pencitraan, tidak klise, dan ini jujur dari lubuk hatiku yang paling dalam… keinginan terbesarku adalah sampai kapanpun kita tetap begini. Bersama. Ber-empat. Kalian ngakakin aku juga gapapa. Kalian jangan berubah pokoknya..” ucap Nisa dengan tampang melownya. Tidak biasa.

“HAHAHA nyante kali Nis!” ucap Fika, Faiz dan Lara bersamaan sambil memeluk Nisa dengan gemasnya.

“INI SERIUSSSSSSSS AAAAAK” ronta Nisa, agak sesak dipeluk oleh ketiga temannya. Badannya yang mungil sepertinya telah menjadi semakin mungil.

“Yakali Nis kita berubah, kitakan bukan power rangger….” Kata Fika.

Faiz menambahkan “Iya, kitakan powerbank” membuat ketiga temannya tertawa. “bebeh kaleeeee” heboh Nisa sambil menghapus air matanya yang sedikit menggenang di ujung matanya.

“trus  keinginan kamu apa, Fik?” Lara berkata sambil menggadeng pundak Fika yang berada di sampingnya. Fika tertunduk, lalu tersennyum.

“Jadi penulis ta, Fik?” potong Nisa sok tau. ”huuuus kamu jangan sotoy!” timpal Faiz.

“Aku ingin sembuh. Aku ingin seperti kalian. Aku ingin selamanya bersama kalian…” lesu Fika. Malam yang semakin larutpun tiba-tiba menjadi hening. Iya.. Nisa, Lara dan Faiz tahu persis apa maksud Fika. Mereka tidak berani untuk bertanya lebih lanjut. Mereka hanya memaksakan senyum, setidaknya jangan sampai mencinptakan air mata di wajah sahabatnya; Fika.

“Ah, sudahlah.. sudah terlanjur. Hehehe” terdengar kaku dan dibuat-buat. Iya. Tawa itu tidak serenyah biasanya. “Aku ingin obat-obat ini tidak pernah habis. Aku benci saat obatnya habis. Aku benci jika orangtuaku harus beli obat lagi untukku. Aku benci menjadi anak yang merepotkan untuk mereka. Aku benci!!!!” lanjut Fika. Air mata yang berusaha ia tahan untuk tidak keluarpun mengalahkannya. Terlihat mengalir dengan deras membasahi pipinya.

“Jangan nangis, Fik!” Nisa mengapus air mata Fika lalu memeluknya.

“Untuk orang tersayang… tidak ada kata merepotkan, Fik. Tidak akan pernah!” ucap lara menguatkan. Menguatkan sahabatnya itu yang sedang rapuh dalam pelukan Nisa.

“Aku ingin berdamai dengan hidup. Aku ingin benar-benar hidup. Aku tidak ingin hidupku bergantung pada obat. Aku tidak ingin keceriaanku bergantung pada jarum infus yang setiap bulan harus ku jumpai. Akuuuuu ingiiiiin….” Penuh tangis, Fika mengucapkan segala keinginannya.

“Aku ingin kamu menjadi diri kamu yang sebenarnya, Fik!” tegas Faiz. Kali ini dengan wajah yang serius. Tidak ada Faiz yang heboh tertawa. Hanya ada Faiz, seorang sahabat yang tidak ingin sahabatnya rapuh dikalahkan oleh penyakit. “Ini bukan Fika. Fika yang kami kenal tidak rapuh. Dia sosok yang kuat dan selalu optimis. Selalu ceria. Apa salah jika keinginan kami adalah melihat kamu menanggalkan kerapuhanmu yang sebenarnya itu bukan kamu?”

“kami adalah orang-orang yang setia meng-aamiin-kan segala keinginanmu, Fik. Kita saling mendoakan yah….”
Nisa berucap. Semakin erat memeluk Fika. Dan meniadakan air mata agar yang dipeluknyapun bisa lebih kuat.

“Terimakasih. Kalianlah penyembuhku yang benar-benar aku butuhkan…” sambil tersenyum Fika memeluk ketiga sahabatnya. Terlihat lebih kuat telah menumpahkan segala kegaduhan yang menggaggu di dalam hatinya. Inilah yang ia inginkan. Ia ingin kuat.


17 komentar:

  1. aaaaah cerpennya so sweeet :)
    untuk orang tersayang tidak ada kata merepotkan, gue suka kata2 itu...
    dan sahabat emang harus saling menguatkan dan saling mensupport..
    dan pembaca dibikin keder Fika sakit apaan -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. hiksss. iyaaa. makasiiih bang :)

      Hapus
  2. ADA YANG MENYEBUT POWER RANGER ~~~~~
    *berubah*

    sempet stuck mikir gara2 kata ini >> meng-ner-dan-tul-kan
    baru ngeh setelah baca lanjutannya -_-
    aku boleh ikut berpelukan gak ? :')
    *kemudian dicampakkan*

    BalasHapus
    Balasan
    1. RENJEEEER IJOOOOO~~~

      hahaha stuck :))) bener dan betul gitu maksudnya.

      :)))

      Hapus
  3. cerpennya benar-benar menyentuh nih :)

    BalasHapus
  4. owh jadi ceritanya dia sakit gitu yak...tentang persahabatan kan yak?? jadi inget temen kuliah sama SMA, dulu juga gitu hobinya ledek ledekkan tapi nggak pernah sampe marah padahal kadang keterlaluaan...

    heyyy, kayaknya udah lama nggak promo yah?? ato akunya yg ngga kaptudet? @.@

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo udah deket mah ledek2an udah dianggap biasa kak :')

      aaah mungkin kak mey ajah yg terlalu rindu :p

      Hapus
  5. jadi inget Ada Apa Dengan Cinta, Seri.. cewek memang gitu, coba kalo gank cowo yg kayak gitu, aneh jadinya. hehehe.... cerpen yg menyentuh. keep on good writing!

    BalasHapus
    Balasan
    1. ihhik...
      makasih kak el... bimbinglah akuuu.. tsah~

      Hapus
  6. Faiz itu cowok apa cewek? .+.

    aku sama ketiga sahabatku gapernah kayak gitu._. itu sosweet banget

    BalasHapus
  7. kalo cowok2 mah itu udah saling cela sambil ketawa-tawa walo sakit kaya apapun.. ahaha

    BalasHapus
  8. Hso sweet banget,, suasana yang dibangun berasaaa banget..
    nice banget shry :D

    BalasHapus
  9. baca keinginan nisa aja udah buat sy sedih.. pernah punya sahabat tapi kini pada berubah semua... apalagi keinginan Fika. Hiks. Pengen nanis nih. Tisu.. tisu mana.. kisah persahabatan yg mengharubirukan:')

    BalasHapus
    Balasan
    1. *kasih tisuu*
      makasihhh kakziii :'))

      Hapus