/
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 April 2014

Tolong, jaga puingnya!





Detak malam yang ranum, berpeluk lelap yang semakin bisu. Ketukan tiap detik jarum jam yang berputar melingkar menarikan perputaran waktu. Merangkak perlahan dan pasti, namun kisahnya masih begitu terahasiakan sampai tiba tuk terjadi maka terjadilah secara pasti.

Sang waktu selalu berhasil menyelundup lalu tersejajarkan dengan tiap hembusan nafas. Mereka memanglah  pantas tuk selaras sebab di sanalah benih cerita akan bertumbuh tuk akhirnya kita jadikan kenangan.

Dan kini, saat para lentik jemariku menari mengetikkan huruf demi huruf dan terangkai menjadi kata yang terkalimatkan… wangi malampun semangit terhirup, begitu menenangkan. Ku padamkan lampu lalu sunyi semakin terasa dalam ringkihan angan yang entah menuju ke mana, pun ke siapa.

Selasa, 08 April 2014

Elysia, Dari Surga.




Aku menatap lurus bulir air hujan yang berbaring di atas rumput hijau, lapang. Lembut, bening dan basah. Andai aku ingin maka aku akan melangkah ke hamparan luas itu lalu berkaca pada beningnya, dan akan aku tangkap linangan yang sama di sepasang mataku sore ini. Ya, Hari ini langit mendung dan gerimispun bersimpuh pada satu waktu sebelum senja pergi dengan malu-malu. Aku sedang tidak semendung langit, mataku hanya basah tersapu bahagia tak terbendung.

Waktu selalu sulit untuk ditebak, pun dengan dia yang secara tak terduga menghampiriku lalu mengetuk pintu hatiku dengan lembutnya. Hampir tak terdengar. Namun aku adalah pemilik hati yang peka--- peka terhadap hal kecil, apapun itu.

Rabu, 26 Maret 2014

Sepotong Brownies (sepotong kisah yang manis)





Malam semakin larut. Jam coklat di tangaku menunjukkan pukul 3 dini hari dan aku masih duduk bersila di balkon kamar. Segelas Milo panas serta sepotong brownies yang menemaniku sejak 5 jam yang lalu sudah ku santap habis tak bersisa. Hening. Jalan depan rumahku mulai lengang termakan gelap dan lelap para penggunanya. Yah, seperinya cuma aku yang masih menikmati malam dengan bintang-bintangnya.

Ku lirik telepon genggamku untuk kesekian kalinya, namun hasilnya selalu sama. Dan untuk kesekian kalinya pula ku lanjutkan lamunku entah untuk berapa lama.

Hening cukup lama. Layar telepon genggamku memecah gelap malam. Sebuah nama yang sedari tadi ku tunggu akhirnya tercantum di sana. ARGA.

Selasa, 11 Maret 2014

Everything has changed



Mungkin, saat ini kau sedang berlari-lari kecil di bibir pantai yang ombaknya begitu memecahkan gelombang keindahan. Sambil memainkan butiran-butiran pasir putih menggunakan kaki yang tak berhenti tuk kau langkahkan. Nampak begitu jelas, sebuah senyum merekah pada sang jingga yang mulai menenggelam dengan rona yang semakin keemasan. 

Pikirku bahwa yang sempat ku sia-siakan kini kembali kekal bersama kebahagiaan adalah benar. Jiwamu kembali berdamai dengan semesta. Rapuhmu yang katanya tak bisa tanpaku pun mulai pudar ditelan cerita baru, bersama seorang yang baru. Aku berbahagia? Lafazku begitu, namun tidak hatiku.

Ku lihat sesuatu yang pernah ku tinggalkan kini meninggalkanku, adalah hambar yang berujung pahit bernama pilu. Sesal adalah nyata yang terlontar, bahwa saja ku mampu mengulang segalanya maka akan aku ulang.

Aku sulit memahami lika liku, padahal sebelumnya aku tahu karena ku tempuhnya bersamamu. Ah, aku enggan melontarkan kerinduanku padamu. Namun apa daya, mendengar pecah tawamu saja rasanya ingin kembali memelukmu lalu kembali memilikimu.

Sabtu, 01 Februari 2014

Namanya adalah Januari

Tepat sebulan yang lalu, aku kembali dipertemukan dengan kawan lama yang hampir setahun pergi namun berjanji kembali. Dan benar, dia benar-benar kembali menjadi sulung yang  semakin baik. Baik hatinya, pun ramah sapaannya.

Pada satu malam tepat sebulan yang lalu, ku jabat tangannya sambil mengguratkan senyuman terindah. Ia menggapai salamanku pun dengan senyuman yang lebih ramah. Waktu itu, langit malam berhiaskan bunga bunga api yang sungguhlah jelita. Yah, aku masih ingat dengan jelas. Mana mungkin aku bisa lupa~ Namun sesaat setelahnya, hujan turun membasahi dua tangan yang sedang berjabat ---tanganku dan tangannya. Lalu kamipun memandangi langit dengan penuh kenikmatan, membiarkan bulir-bulir air berpeluk dengan tubuh yang merindukannya.

Dia tersenyum. Lalu mengajakku berjalan bersama dengan pegangan yang masih begitu hangat aku rasa.

“Kita mau kemana?” tanyaku padanya. Namun dia hanya tersenyum tanpa mengeluarkan kata.

Selasa, 28 Januari 2014

Lelaki Kecil dengan Pelanginya

Setahun yang lalu, aku bertemu dengan seorang pemuda berkacamata yang masih mengenakan seragam putih abu-abu. Aku masih  ingat dengan jelas saat dia memberanikan diri untuk mengirim sapaan padaku yang sedang duduk murung sendirian dibangku taman kota. Taman yang tidak ramai seperti biasanya karena hujan baru saja reda menjadi saksi pertemuan pertama, hari itu.

“Hujannya sudah reda, berhentiah menangis! Sekarang waktunya untuk pelangi menghiasi langit” katanya, sok akrab. Aku menoleh namun tidak membalasnya dengan reaksi apa-apa.

“Apa yang membuatmu sedih?” tanyanya. Masih dengan sikap sok akrab. Aku menatapnya begitu lama, lalu kembali menangis.

“Patah hati? Huh! Aku tak percaya, seorang wanita bisa menjadi serapuh ini hanya karena persoalan hati”  katanya sembari menyunggingkan senyum kecut lalu memperbaiki posisi duduk gagangan hitam yang membingkai kedua matanya.

“Berhentilah berteriak meminta pelangi saat petir dan kilat masih bergemuruh tanpa kemerduan sedikitpun dari berbagai penjuru langit hatiku, anak kecil!” kataku, berdiri lalu berjalan pergi meninggalkannya tanpa permisi. Toh, aku bukan peri yang bisa bersikap baik pada siapa saja saat tiap orang ramah menghampiri.

Minggu, 20 Oktober 2013

Story in Titan

Ini adalah cup ice cream ke kedua  yang aku santap dengan lahapnya malam ini. Tak peduli dengan dingin yang merajai malam, tak peduli dengan hembusan angin yang menyapa tubuhku tanpa kemesraan, dan tak peduli dengan apa yang terjadi pada mereka yang mungkin saja sedang mencariku. Aku tak peduli. Mungkin aku adalah gadis aneh nan egois yang sedang duduk sendirian di atap sekolah sambil menikmati ice cream yang entah akan aku habiskan berapa banyak malam ini, aku sengaja membeli banyak.

Sesuap, dua suap, tiga suap ice cream pada cup kedua ini aku nikmati. Tatapanku masih tertuju kosong pada gemerlap lampu kendaraan yang berlalu lalang di sekitar sekolah. Yah, kini aku sedang duduk manis di atap sekolah yang berada di lantai 4. Aku bisa melihat semuanya, kecuali dia.. dia yang 2 tahun lalu masih menemaniku menghabiskan malam di tempat ini.

Ku ayunkan kakiku sambil menikmati lumeran ice cream yang terasa sangat lembut di lidahku. Ingatanku berlari mundur begitu cepat saat itu, dan berhenti tepat di moment 2 tahun yang lalu.



Jumat, 04 Oktober 2013

kita menyebutnya 'keinginan'


“Apa keinginan kalian saat ini?” ucap Fika secara tiba-tiba, memecah hening yang tercipta sejak beberapa saat yang lalu, saat dia dan ketiga temannya sedang mengerjakan tugas statistik mereka.

“Maksudnya?” tanya Nisa sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Lara dan Faiz yang sedang fokus mengerjakan tugaspun menghentikan fokusnya. Mereka diam sembari berfikir.

“Yah, tentu saat ini kalian memiliki keinginan, kan? Nah, Keinginan apapun itu,  coba utarakan…” jawab Fika, kali ini mengikuti gaya Nisa; menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Sedikit bingung dengan kalimat yang ia sendiri baru saja utarakan.

Minggu, 08 April 2012

Kita?

#1
aku.. Aku memiliki sahabat karib yang amat sangat aku sayangi, namanya Tia. Kami sering saling mengisi. Saling berbagi apa yang menjadi kekurangan kami satu sama lain. Saling melengkapi disaat salahsatu diantara kami merasakan kesepian dan membutuhkan tempat untuk share ke orang lain. Kami tidak terpisahkan. Banyak hal yang berbeda dari kami namun tidak sedikit pula persamaan diantara kami. Kami sama-sama pecinta musik, penikmat hujan paling setia, penjelajah dunia maya, pembenci matematika dan masih banyak lagi. Disisi lain, aku sangat membenci hewan yang bernama kucing, namun dengan tidak memperdulikanku, Tia sangat menyukai hewan agresif tersebut.

"gue emang benci kucing tapi gue tidak akan benci lo", ujarku saat Tia menanyakan hal bodoh tentang pendapatku terhadap dia yang sangat mencintai hewan berkaki empat tersebut.