/

Rabu, 26 Maret 2014

Sepotong Brownies (sepotong kisah yang manis)





Malam semakin larut. Jam coklat di tangaku menunjukkan pukul 3 dini hari dan aku masih duduk bersila di balkon kamar. Segelas Milo panas serta sepotong brownies yang menemaniku sejak 5 jam yang lalu sudah ku santap habis tak bersisa. Hening. Jalan depan rumahku mulai lengang termakan gelap dan lelap para penggunanya. Yah, seperinya cuma aku yang masih menikmati malam dengan bintang-bintangnya.

Ku lirik telepon genggamku untuk kesekian kalinya, namun hasilnya selalu sama. Dan untuk kesekian kalinya pula ku lanjutkan lamunku entah untuk berapa lama.

Hening cukup lama. Layar telepon genggamku memecah gelap malam. Sebuah nama yang sedari tadi ku tunggu akhirnya tercantum di sana. ARGA.


“Sya.. Maaf”
“Iya, aku ngerti kamu sibuk”
“Sya…”
“Apa?”
“Bagaimana harimu?”
“Seperti biasa. Lengkap setelah mendengar pertanyaanmu barusan”
“Pun aku. Lengkap setelah mendengar jawabanmu”

Sepasang tawa memecah sunyi subuh yang sungguh penyebab beku. Setelahnya, kembali hening karena satu kalimat penyebab hati gaduh.

“Sya.. beberapa jam lagi, semuanya akan berakhir. Apa rencanamu?”
“Aku ingin kita bertemu”

***

Tampaknya isi kepalaku sudah rusak termakan ambisi dan egois. Seseorang di hadapanku sedang menatap jauh ke dalam mata sayuku  yang tengah begitu sendu. 

“Beberapa jam lagi, maka semuanya akan berakhir. Aku tidak ingin jika kita mengisinya dengan berdiam saja”

Aku tak menjawab. Pikiranku melayang pada sosoknya. Seseorang yang begitu aku cintai, bagaimana bisa dia mengingatkanku tentang akhir padahal dia tau dengan jelas bahwa keadaan hatiku sedang tidak baik.

“Ga! Tidak kah kau ingin mengajakku tuk menemanimu sepanjang usia. Hingga Akhir?”
“Pulanglah padanya Sya.. Lupakan aku! Lupakan kita! Bukan aku yang semestinya menjadi bahagiamu..”

Aku kembali menunduk. Ku rasakan dia mengelus punggungku dan isak itupun semakin jadi. Iya, benar. Aku harus pulang. Pulang pada kenyataan bahwa esok hari aku telah menjadi istri dari orang lain, bukan kekasihku. Bagaiamana bisa? Tentu bisa. Bukan karena dia tidak memperjuangkan, melainkan dunia tidak mengamini segala harap dari kami.

Berkali-kali aku menuntut. Ku inginnya dia mengajakku terbang, padahal dia baru saja belajar mengepakkan sayap. Begitulah. Kami jatuh bersama, terhempas lalu terpisah.

Kuseka berulang-ulang air mata yang tak terbendung padahal telah susah payah aku tahan. Aku seakan kekurangan oksigen secara tiba-tiba. Nafasku tak beraturan, begitu juga dengan isi hatiku.

“Dia, adalah pantulan dari dalam cerminku . Kebahagiaan yang telah aku berikan, kelak akan dia berikan lebih padamu. Tapi tolong, jangan  anggap dia adalah aku. Aku percaya kamu bisa menjadi istri shalehah yang tidak melakukan hal itu”

Perlahan nafasku kembali teratur. Berusaha meninggalkan cinta tuk CINTA.

“Ga, pernah ku serahkan segalah harapan pada genggaman tanganmu. Namun hari ini, ku ambil kembali harapan itu tuk ku berikan pada Kakakmu; calon imamku” 

*** 

“Saya terima, nikahnya dan kawinnya Syahdara Tunggadewi Binti Priyoto dengan maskawinnya tersebut tunai”

Serentak orang-orang meneriakkan kata “SAH!” dan saat itu pula aku resmi menjadi Kakak Ipar dari (mantan) kekasihku, ARGA.

“Aku pernah menyerahkan segala harapan pada genggaman tangan seseorang namun aku dikecewakan. Kali ini, ku serahkan harapan itu padamu…. Suamiku” kataku pada seseorang yang tengah duduk bersanding denganku. Dibalasnya pintaku dengan sebuah senyum.

“Kau sedang terluka?”
“Yah, sedikit”
“Isinkan aku tuk mengobati lukamu, agar bisa kau cintaiku tanpa menoleh ke masa lalumu. Boleh?”

Aku mengangguk. Aku tersenyum. Dan, di sebuah hati yang berada pada jarak beberapa meter dariku, aku tahu dia sedang meronta mengiringi kebahagiaanku dengan seorang yang  tak asing dalam hidupnya.

“Yang kekal biarlah kenangan kita, tidak untuk rasa” ucap matanya saat ku dapati sedang menatapku dari kejauhan tengah duduk bersanding di pelaminan. Ku balasnya dengan senyum, sebab memang tak ada yang salah antara aku dengan dirinya. Kami hanya dua orang yang pernah memiliki harapan-harapan yang lancang di dalam kepala masing-masing. Selebihnya? Tidak ada lagi.

***

Ku berikan padanya sepotong brownies pada acara jamuan keluarga setelah resepsi pernikahanku digelar. Disambutnya pemberianku dengan senyuman layaknya sang adik yang menyambut kebaikan kakak perempuannya. "Sepotong brownies, sepotong kisah yang manis. Biarlah Kakakku yang melanjutkannya & melengkapinya hingga akhir"  bisiknya sambil menebar senyum, lalu pergi.


19 komentar:

  1. cerpennya bagus tuh,,udah pernah dimuat diharian ya?????

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe terimakasih. ini masih belajar, Julian :)

      Hapus
  2. Buset dah nyesek nyesek banget dah. Mantan jadi adik ipar. Haduh. Kalo lagi ketemu kreyeng2 di hati gimana tu rasanya. Gue g bayangin

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga gamau bayangin, Bang -_____- mahahaha pasti ngejleb

      Hapus
  3. hummm kenapa harus mirip dengan kisaaaaaah..... #ahsudahlah

    Nyesek banget melihat si Arga yang harus melihat Sya dijodohkan sama kakak kandung Arga

    BalasHapus
    Balasan
    1. free pukpuk untuk si titik titik (......) yang dirimu maksud Pal mahahahah :))

      Hapus
  4. kayaknya udah ahli bikin cerpen nihh :)

    kisah kamu juga pernah dialamin sama temenku, bikin nyesek emang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh please Isna ini bukan kisah aku. real Fiksi. jagan sampe kejadian heheheh :')

      Hapus
  5. ehk, pasti sakit tuh rasanya..
    mantannya malah jadi... ah kasian,, yah

    BalasHapus
  6. tapi kenapa emang kok malah nikah sama kakaknya ga ada alasannya kk...dan juga pas ada percakapan yg suaminya tau istrinya yng baru dinikahi bilang lagi terluka kok ga marah gitu?? aduuh, udah baca aja napa ga usah banyak tanya...@.@

    tapi diksimu baguss cc!! jadi pingin bikin dehh :D

    BalasHapus
  7. Ehhh itu gimana ceritanya bisa nikah ama kakaknyaaaa? Gak terimaa!!
    Kalo kata temenku cowo kayak gitu type cowok ayam sayurr.. perjuangin dong! Senewen sendiri gw...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan karena dia tidak memperjuangkan, melainkan dunia tidak mengamini segala harap mereka. mehehehehe. ceritanya gitu kak

      Hapus
  8. Berusaha meninggalkan cinta untuk CINTA.

    Bagus banget cerpennya. Sebenernya yang terluka bukan hanya si cewek tapi juga Arga nya. Arga rela melepaskan si cewek untuk menikah dengan kakak iparnya sendiri. Pasti berat banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ho-oh :'(
      pukpuk Arga.. sini Arga sama Maz Reyza ajah *loh

      Hapus
  9. Banyak yang membuat pembaca bertanya-tanya, kok Syah enggak bisa bareng sama Arga, kenapa?
    Kok nikahnya sama sodaranya Arga?

    entah ini emang sengaja dari Shry atau gimana, yang jelas gue sebagai pembaca masih kebingungan.. hehe
    tapi dari pemilihan kata, jos banget... keren kok. :)

    BalasHapus
  10. hehehe sengaja sib bang.. biar yang bingung bukan cuma saya *dikeplak*
    hehe makasih bang atas ke-jos-an-nya :D

    BalasHapus
  11. Kenapa... Kenapa semua ini harus terjadi? Kenapa? KENAPA?! *pasang ekspresi lebay*

    Oke, abaikan.

    Aku cuma mau bilang... Cerpennya bagus kak! Aaa... Nyesek banget deh. Ternyata bukan cuma pembacanya yg bingung kenapa Syah nikah sama kakaknya Arga ya? Penulisnya juga bingung toh? =))

    BalasHapus