/
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 April 2014

Elysia, Dari Surga.




Aku menatap lurus bulir air hujan yang berbaring di atas rumput hijau, lapang. Lembut, bening dan basah. Andai aku ingin maka aku akan melangkah ke hamparan luas itu lalu berkaca pada beningnya, dan akan aku tangkap linangan yang sama di sepasang mataku sore ini. Ya, Hari ini langit mendung dan gerimispun bersimpuh pada satu waktu sebelum senja pergi dengan malu-malu. Aku sedang tidak semendung langit, mataku hanya basah tersapu bahagia tak terbendung.

Waktu selalu sulit untuk ditebak, pun dengan dia yang secara tak terduga menghampiriku lalu mengetuk pintu hatiku dengan lembutnya. Hampir tak terdengar. Namun aku adalah pemilik hati yang peka--- peka terhadap hal kecil, apapun itu.

Rabu, 26 Maret 2014

Sepotong Brownies (sepotong kisah yang manis)





Malam semakin larut. Jam coklat di tangaku menunjukkan pukul 3 dini hari dan aku masih duduk bersila di balkon kamar. Segelas Milo panas serta sepotong brownies yang menemaniku sejak 5 jam yang lalu sudah ku santap habis tak bersisa. Hening. Jalan depan rumahku mulai lengang termakan gelap dan lelap para penggunanya. Yah, seperinya cuma aku yang masih menikmati malam dengan bintang-bintangnya.

Ku lirik telepon genggamku untuk kesekian kalinya, namun hasilnya selalu sama. Dan untuk kesekian kalinya pula ku lanjutkan lamunku entah untuk berapa lama.

Hening cukup lama. Layar telepon genggamku memecah gelap malam. Sebuah nama yang sedari tadi ku tunggu akhirnya tercantum di sana. ARGA.

Selasa, 28 Januari 2014

Lelaki Kecil dengan Pelanginya

Setahun yang lalu, aku bertemu dengan seorang pemuda berkacamata yang masih mengenakan seragam putih abu-abu. Aku masih  ingat dengan jelas saat dia memberanikan diri untuk mengirim sapaan padaku yang sedang duduk murung sendirian dibangku taman kota. Taman yang tidak ramai seperti biasanya karena hujan baru saja reda menjadi saksi pertemuan pertama, hari itu.

“Hujannya sudah reda, berhentiah menangis! Sekarang waktunya untuk pelangi menghiasi langit” katanya, sok akrab. Aku menoleh namun tidak membalasnya dengan reaksi apa-apa.

“Apa yang membuatmu sedih?” tanyanya. Masih dengan sikap sok akrab. Aku menatapnya begitu lama, lalu kembali menangis.

“Patah hati? Huh! Aku tak percaya, seorang wanita bisa menjadi serapuh ini hanya karena persoalan hati”  katanya sembari menyunggingkan senyum kecut lalu memperbaiki posisi duduk gagangan hitam yang membingkai kedua matanya.

“Berhentilah berteriak meminta pelangi saat petir dan kilat masih bergemuruh tanpa kemerduan sedikitpun dari berbagai penjuru langit hatiku, anak kecil!” kataku, berdiri lalu berjalan pergi meninggalkannya tanpa permisi. Toh, aku bukan peri yang bisa bersikap baik pada siapa saja saat tiap orang ramah menghampiri.

Minggu, 20 Oktober 2013

Story in Titan

Ini adalah cup ice cream ke kedua  yang aku santap dengan lahapnya malam ini. Tak peduli dengan dingin yang merajai malam, tak peduli dengan hembusan angin yang menyapa tubuhku tanpa kemesraan, dan tak peduli dengan apa yang terjadi pada mereka yang mungkin saja sedang mencariku. Aku tak peduli. Mungkin aku adalah gadis aneh nan egois yang sedang duduk sendirian di atap sekolah sambil menikmati ice cream yang entah akan aku habiskan berapa banyak malam ini, aku sengaja membeli banyak.

Sesuap, dua suap, tiga suap ice cream pada cup kedua ini aku nikmati. Tatapanku masih tertuju kosong pada gemerlap lampu kendaraan yang berlalu lalang di sekitar sekolah. Yah, kini aku sedang duduk manis di atap sekolah yang berada di lantai 4. Aku bisa melihat semuanya, kecuali dia.. dia yang 2 tahun lalu masih menemaniku menghabiskan malam di tempat ini.

Ku ayunkan kakiku sambil menikmati lumeran ice cream yang terasa sangat lembut di lidahku. Ingatanku berlari mundur begitu cepat saat itu, dan berhenti tepat di moment 2 tahun yang lalu.



Jumat, 04 Oktober 2013

kita menyebutnya 'keinginan'


“Apa keinginan kalian saat ini?” ucap Fika secara tiba-tiba, memecah hening yang tercipta sejak beberapa saat yang lalu, saat dia dan ketiga temannya sedang mengerjakan tugas statistik mereka.

“Maksudnya?” tanya Nisa sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Lara dan Faiz yang sedang fokus mengerjakan tugaspun menghentikan fokusnya. Mereka diam sembari berfikir.

“Yah, tentu saat ini kalian memiliki keinginan, kan? Nah, Keinginan apapun itu,  coba utarakan…” jawab Fika, kali ini mengikuti gaya Nisa; menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Sedikit bingung dengan kalimat yang ia sendiri baru saja utarakan.

Rabu, 29 Agustus 2012

BF or BF ??

 

Matahari yang sangat terik memancarkan sinar yang sangat menyilaukan siang ini. Disebuah kerumunan  orang-orang berseragam putih abu-abu tergeletak seorang perempuan lemah tidak berdaya, tertidur di diatas pangkuan seorang perempuan dengan seragam yang sama. Seorang laki-laki berbaju basket terlihat sangat cemas dan khawatir sembari mengoleskan minyak telon ke dahi perempuan lemah yang tergeletak pucat tersebut. Hingga tersadarlah perempuan tersebut dengan membuka kedua matanya dan melihat betapa banyak orang yang memperhatikannya.

“kok ???” belum selesai dia mengutarakan sebuah pertanyaan, seorang lelaki yang nampak khawatir tadi memotong perkataannya dengan wajah yang nampak lebih tenang dari sebelumnya.

“loe tadi pingsan terkena lemparan bola basket. Ingat ?” katanya dengan penuh kelembutan.