/

Selasa, 20 Oktober 2015

Kamu! Kamu harus sering membaca ini!

Ingat, jangan katakan apa-apa. Cukup kamu baca lalu pahami saja. Aku tak pula menunggu sebuah balasan. Sekarang duduklah dengan baik. Jangan lanjutkan jika kamu sedang sibuk dengan amat sangat. Aku benci ketidak fokusanmu. Aku tahu betul bagaimana saat-saat panikmu.

Pada saat kamu membaca surat ini, bisa jadi kamu sedang begitu berbahagia. Entah penyebabnya karena seseorang, atau bahkan karena begitu banyak orang. Ya! aku sangat tahu akan kehidupanmu dengan orang-orang baik di sekelilingnya. Maka pandai-pandailah bersyukur, agar tidak diambilnya kebahagiaan-kebahagiaanmu itu. Kamu tahu kan pedihnya kehilangan? Tidak usah dijawab. Aku tahu kamu sedang mengangguk.


Pada saat kamu membaca surat ini, bisa jadi kamu sedang jatuh cinta. Entah sedang pada fase berbunga-bunga, merindu, cemas, cemburu atau bahkan sedang kesal-kesalnya karena tidak mendapatkan kabar namun kamu tetap ingin terlihat biasa saja. Ya, aku tahu betul akanmu yang merindu namun tetap berusaha tegar sembari mengumpulkan kepingan-kepingan rindu ke dalam celengan, cemas namun sekuat mungkin mengalahkan ke-negatif-thinking-an, cemburu namun selalu berusaha percaya, bahkan kesal karena tak mendapatkan kabar namun tidak menjadikannya sebuah masalah besar karena aku tahu betul kamu tahu alasan ketiadaan kabarnya. Aku yakin dia yang telah kamu pilih tentu tidaklah sejahat itu untuk menjelma menjadi hal-hal yang di-negatif-thinking-kan.

Pada saat kamu membaca surat ini, bisa jadi kamu sedang sedih.  Aku sangat tahu akan kebiasaanmu menangis diam-diam karena tidak ingin dikasihani juga dikhawatirkan . Aku pun tahu kamu tidak akan semudah itu meneteskan air mata hanya karena hal kecil. Kamu tidak secengeng itu. Tidak apa. Menangislah jika kamu rasa itu terlalu sakit. Keluarkan air matamu. Pecahkan tangismu. Namun menyerah, jangan pernah! Aku adalah orang pertama yang membencimu jika kamu melakukan hal itu. Bertahanlah, karena semua akan berlalu.

Pada saat kamu membaca surat ini, bisa jadi kamu sedang memendam murka yang amat sangat. Namun, aku sangat tahu tentang semarah-marahmu, kamu tidak pernah menjadi semurka yang sering kamu rencanakan di benakmu sendiri. Kamu lemah? Tidak. Aku tahu kamu sedang mencoba tuk mengontrolnya saja. Tak apa. Karena aku paham betul hal-hal apa saja yang akan terjadi jika kamu murka. Akan begitu banyak hal yang dikorbankan, dirimu sendiri salahsatunya. Jadi, katakan yang mengganggu batinmu. Jangan dipendam. Kasihan hatimu. Namun sebisa mungkin tidak mengikutsertakan amarah di dalamnya. Aku yakin kamu sudah paham betul caranya.

Pada saat kamu membaca surat ini, bisa jadi kamu sedang jenuh akan suatu hal, namun di antara kejenuhanmu kamu masih bisa memberikan hal yang maksimal. Terkadang, aku bahkan tak tahu kamu sedang jenuh karena masih terlihat  bersemangat. Yang aku tahu, kamu akan selalu punya cara-cara baik untuk membuat yang mulai terasa jenuh menjadi kembali baru. Tidak apa. Sebab, jenuh dan langsung memilih menyerah sungguh kekanak-kanakkan untuk sosokmu, kan?

Pada saat kamu membaca surat ini, bisa jadi kamu sedang mencoba meraih satu persatu mimpi-mimpimu. Aku tahu kamu telah merasakan gejolak-gejolaknya. Ku harap kamu takkan pernah mengenal kata menyerah. Jika kamu jatuh, bangkitlah. Jika ditolak, merevisilah. Jika belum mendapatkan restu, yakinkanlah. Jangan fokus pada kegagalan yang mungkin saja akan kamu jumpai nanti. Bertahan dan teruslah melangkah ke depan.

Pada saat kamu membaca surat ini, aku tak tahu jelas apa yang sedang berlari-lari di pikiranmu. Apapun itu, tetaplah menjadi yang terbaik untuk dirimu. Jika esok kamu lelah, tidak apa, istirahatlah. Itu wajar. Tapi setelah itu, bangunlah dan kembali melangkah. Jangan lupa berdoa. Jangan pula kamu sering-sering mengeluh, ah maksudku jangan pernah mengeluh. Mengeluh hanya membuatmu terlihat lemah dan tanpa kamu sadari, akan menambah berat beban langkahmu.

Pada saat kamu membaca surat ini, entah besok, minggu depan, bulan depan, tahun depan, atau kapan saja, janganlah kamu bosan untuk bersyukur atas kisah kemarin pun hari ini, kemudian berikanlah yang terbaik untuk hari esoknya. Jangan pernah menyerah. Jangan pernah berhenti. Cukup Tuhan yang tahu kapan waktumu tuk berhenti.

Jangan lupa bahagia. Jangan asing dengan sunggingan senyuman. Jangan menjadi sombong dengan lupa bersyukur atas segala nikmat Tuhan. Maaf sedikit cerewet. Sebab, aku terlalu mencintaimu untuk membiarkan hidupmu berlalu tanpa arti begitu saja. Karena kamu, adalah aku.


Salam sayang dariku, 'kamu'



Tidak ada komentar:

Posting Komentar